AL QALAM

Oleh : Mohammad Masduki *)

Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan,
Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah.
Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Mahamulia.
Yang mengajar (manusia) dengan “Al Qalam”.
Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya.
(AL Qur-an; Al ‘Alaq [96]:1-5)

Sebuah rangkaian kalimat yang sangat indah dan membuka wawasan tentang banyak hal. Menjadi kunci keselamatan dan kebahagiaan hidup. Memang bukan kalimat biasa. Melainkan firman Tuhan.

Salah satu kata kunci dalam rangkaian kalimat tersebut adalah “Al Qalam”. Dengan al qalam Allah mengajar manusia yang diciptakanNya dari segumpal darah dan tidak tahu apa2, menjadi tahu, pintar, dan mampu berfikir.

Apa sebenarnya yang dimaksud dengan al qalam? Ada yang memaknai al qalam sebagai “pena”. Bagaimana pena bisa menjadikan manusia serba tahu?

Suatu ketika, seorang guru menjelaskan kepada saya. “Al Qalam adalah keseluruhan ‘rangkaian sebab’ yang memungkinkan hadirnya sebuah realita di hadapan kita”. Sebuah penjelasan yang membuat saya mengernyitkan dahi dan mengerutkan alis. Pertanda persoalan semakin rumit dan perlu banyak penjelasan lagi.

Untunglah beberapa waktu kemudian saya menemukan buku kecil yang didalamnya ada sebuah hadis. Rasulullah saw bersabda, “Sesungguhnya makhluk yang pertama diciptakan oleh Allah SWT adalah al-Qalam. Kemudian dikatakan kepadanya, ‘Tulislah!’ Lalu al-Qalam bertanya, ‘Apa yang harus aku tulis wahai Rabb-ku?’ Allah SWT berfirman, ‘Tulislah berbagai ketetapan-Ku yang Aku gariskan bagi seluruh makhluk-Ku hingga datang hari kiamat!’”
(HR. Abu Dawud ra).

Benar juga jika kemudian ada pula yang memaknai al qalam sebagai “pena taqdir”. Bukan pena biasa.

Dari rangkaian keterangan diatas, dapatlah kiranya kita menarik pemahaman tentang Al Qalam. Yakni, “Keseluruhan ‘rangkaian sebab’ baik yang kita ketahui maupun yang tidak kita ketahui, sambung menyambung dari masa lalu hingga masa kini, yang memungkinkan hadirnya sebuah realita sampai di hadapan kita”.

Bagi orang beriman, tidak terlalu sulit untuk merangkaikan keseluruhan sebab itu kepada Yang Maha Penyebab atau Yang Maha Menentukan. Itulah sebabnya sejak semula Allah memberi tuntunan: Iqra’ bismi Rabbikalladzi khalaq. Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan. Baca dan pikirkan setiap realita (wujud, fenomena dan peristiwa) dengan senantiasa ingat bahwa semua rangkaian sebab hadirnya realita itu bermula dari dan atas kehendak Tuhanmu.

Misal, di depan kita ada pisang goreng dihidangkan isteri. Menyaksikan hadirnya pisang goreng tersebut, seorang beriman langsung membaca rangkaian sebab yang menyebabkannya. Ada isteri setia yang baik hati menggoreng. Untuk menggoreng perlu kompor, wajan, minyak, dan sebagainya. Semua bahan dan peralatan itu diproduksi dengan melibatkan banyak pihak. Harus pergi ke pasar membeli pisang. Pisang ada yang mengangkut, memanen, menanam, dan seterusnya. Untuk mengangkut perlu kendaraan. Kendaraan dibuat di pabrik dengan melibatkan banyak orang. Dalam menanam pak tani juga membutuhkan banyak hal dan banyak pihak.
Ada ribuan bahkan jutaan sebab yang saling terangkai sampai sepotong pisang goreng masuk ke dalam mulut kita. Tidak seorangpun mampu membaca dan menghitung dengan tepat rangkaian sebab itu. Lebih banyak sebab yang tidak diketahuinya. Maka, tak seorangpun mampu berterima kasih kepada semua yang berjasa dalam hidupnya. Karena itu orang beriman dituntun dan diberitahu bahwa semua rangkaian sebab itu bermula dari Sang Pencipta. Demikian itu supaya manusia banyak berteima kasih dan sibuk dengan aktifitas bersyukur. Tidak terjerembab dalam sikap sombong.

Demikianlah. Ketika seseorang bertemu dengan sebuah realita, dia hanya mampu memberi kesan sesuai apa yang diketahuinya. Ibarat 3 orang buta yang mencoba mendefinisikan seekor gajah. “Gajah itu besar, terasa kasar, luas, dan lebar seperti permadani.” “Gajah itu mirip pipa lurus bergema, mengerikan dan suka merusak.” “Gajah itu kuat dan tegak, seperti tiang.”
Masing-masing hanya menyentuh satu bagian saja, dan keliru memahaminya. Semua definisi itu “tidak salah” menurut mereka masing2. Tapi “tidak benar” secara obyektif dan ilmiah. Karena lebih banyak hal yang sebenarnya tidak mereka ketahui.

Al Qalam telah membuat kita tahu. Bahwa lebih banyak hal yang tidak kita ketahui.

Al Qalam adalah teori pertama yang diajarkan Allah kepada manusia melalui Rasulullaah. Dengan Teori ini manusia dapat membaca dengan tertuntun (iqra’). Teori al Qalam mengajarkan tentang korelasi antara relativitas pengetahuan manusia dengan kemutlakan ilmu (ke-Mahatahu-an) Allah.

Al-Qalam menjadi salah satu kata kunci yang disampaikan Allah dalam 5 ayat wahyu pertama. Demikian pentingnya Iqra’ (“membaca semesta”) dengan metode al-Qalam. Menjadi prasyarat bagi penyandang predikat khalifatullah fil ardl.

Kebenaran yang dihasilkan dari penafsiran manusia, bagaimanapun tetap bersifat kebenaran kontekstual yang relatif. Karena itu, kebenaran yang ada hari ini bisa jadi tidak relevan lagi di waktu yang akan datang.
Demikian itu karena “rantai rangkaian sebab” telah bertambah panjang. Al-Qalam bersifat dinamis.

Teori al-Qalam merangkum semua kebenaran relatif dan membawanya mendekati kebenaran mutlak.

Kedahsyatan Teori al-Qalam ini melampaui Teori Relativitas, Teori Hermeneutika, dan semua teori lainnya dalam berbagai bidang. Semua teori yang ada akan terangkum menjadi teori tunggal: TEORI AL QALAM.

Al-Qalam adalah makhluk pertama yang diciptakan Allah, sebelum diciptakan makhluk lainnya. Apa yang berkembang dan mengalir hari ini, semua bermuara kepadanya. Teori Awal yang Tunggal. Sebab segala yang ada diciptakan oleh Dzat Yang Tunggal.

Dalam merespon sebuah realita, seringkali masing-masing orang berbeda. Bisa jadi semuanya tidak salah. Tapi bisa jadi pula semuanya salah. Atau, semuanya kurang tepat. Hal ini wajar. Sebab tidak seorangpun mampu membaca keseluruhan rangkaian sebab hadirnya realita tersebut. Hanya Allah Yang Maha Tahu dan Maha Menentukan. Karena itu, memutlakkan pendapat sendiri merupakan sikap yang kurang bijaksana. Kita perlu terus iqra’ bismi Rabbi supaya makin diakrabkan dengan al qalam. Sehingga bisa menjalani hidup dengan lebih tenang.

13 Januari 2024

*) Ketua DPW Partai Bulan Bintang Jawa Timur

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *