Let the young take the lead!

0
22


Oleh: Shamsi Ali

Presiden Nusantara Foundation

Saya tidak bermaksud menulis dalam bahasa Inggris. Sengaja memakai judul berbahasa Inggris agar jadi perhatian saja. Maklum seringkali yang nampak kebarat-baratan lebih jadi perhatian. Jadi biar jadi “eye catchy” kata yang lain.

Dunia kita mengalami pergerakan dan perubahan yang dahsyat. Dalam setahun terakhir saja, melalui Pandemi Covid 19 ini, perubahan itu begitu sangat terasa dan mendasar. Bahkan sesungguhnya istilah “new normal” yang timbul dari Covid 19 ini esensinya adalah perubahan.

Manusia yang sadar akan kehidupan, bahkan tabiat alam semesta, akan paham dengan fenomena ini. Al-Quran menggambarkan pergerakan alam semesta secara konstan. Di surah Yasin misalnya digambarkan alam semesta bagaikan “berenang-renang” dalam pergerakan itu.

“Wa kullun fii falakin yasbahuun” (dan semua berputar pada poros masing-masing”.

Manusia dalam wujud fisikalnya juga menjadi bagian dari alam. Dan karenanya secara fisik manusia mengikut kepada hukum Allah (biasa diekspresikan dg hukum alam) yang universal. Jantung memompa yang dengannya mengalirkan darah ke seluruh pori-pori kehidupan.

Tapi manusia dalam posisinya sebagai wujud ciptaan yang berdasar ruhiyah (spiritual being) bukan ciptaan biasa. Tapi kreasi Allah yang unik. Bahkan dalam bahasa seorang penulis “the unknown” alias ciptaan misterius.

Pada tataran inilah manusia harus sadar bahwa pada dirinya ada nilai yang istimewa. Nilai yang tidak dimiliki oleh sembarang ciptaan (khalq). Nilai yang sekaligus menjadikannya sebagai makhuk yang bernilai (valuable). Itulah nilai spiritulitas yang terbangun di atas kefitrahan Ilahi (fitratallah allati fatoran naasa jami’an).

Manusia berubah, bukan dirubah

Karena manusia itu memiliki dua aspek. Aspek fisikal yang menjadi bagian dari alam semesta (al-alamin). Dan aspek ruhiyah yang merupakan bagian dari “ruh Ilahi” (nafakhna fiihi min ruhina). Maka manusia itu ada di dua kemungkinan. Berubah/mengubah atau dirubah.

Sekali lagi, pada sisi inilah manusia kemudian akan menampakkan nilainya sebagai manusia yang bernilai (valuable). Jika ternyata hanya menjadi bagian dari alam yang menempatkan diri sebagai obyek perubahan, maka manusia menjatuhkan diri ke lembah yang rendah (asfala safilin). Tapi jika manusia mampu mengambil kendali dan menjadi agen perubahan (merubah dan tidak dirubah) maka manusia itu naik ke tataran “ahsanu taqwiim” (ciptaan terbaik).

Dalam sejarah hidup manusia, kerap kehancurannya ada pada ketidak mempuan menghadirkan perubahan. Akibatnya manusia dipaksa mengikuti alur perubahan, yang tidak jarang justeru dipaksakan dan tidak sejalan dengan kemanfaatan bagi dirinya dan alam sekitarnya.

Realita ini juga mencakup perubahan kepemimpinan suatu kaum (bangsa/negara). Sebuah kaum atau bangsa perlu melakukan perubahan dan tidak dipaksa berubah oleh perubahan alam.

“Innallaha laa yughayyiru maa biqaumin hatta yughayyiru maa bi anfusihim” (sesungguhnya Allah tidak merubah nasib suatu kaum (umat atau bangsa) sehingga mereka melakukan perubahan pada diri mereka”.

Tentu perubahan yang dimaksud adalah perubahan ke arah yang lebih baik. Kalau sekedar perubahan maka semua akan berubah secara alami atau dipaksa oleh alam. Karena itu sunnatullah dalam ciptaanNya (fil-kaun).

Salah satu aspek perubahan yang sebuah kaum atau bangsa adalah perubahan kepemimpinan. Menjadi tuntutan sebuah bangsa untuk berani keluar dari zona nyaman (comfort zone) untuk menghadirkan pemimpin yang lebih muda, kredibel, pintar dan berintegritas. Bahkan di masa yang tidak seperti biasa ini diperlukan pemimpin yang “unconventional” (yang tidak seperti biasanya).

Saya sengaja memulai tulisan ini dengan penggambaran perubahan secara filosofis. Biarlah bangsa ini mulai berfikir, merenung dan membuka belajar membuka wawasan. Masanya bangsa ini menghentikan pemikiran singkat. Pikiran hura-hura kampanye, yang terkadang membawa maut. Pikirkan masa depan bangsa dan negara ini.

Padahal poin tunggal yang ingin saya sampaikan adalah bahwa di negara Indonesia begitu banyak sosok muda yang hebat. Baik yang telah ada di jajaran kepemimpinan nasional maupun daerah, bahkan yang masih berada di luar lingkungan birokrasi. Mereka dapat menjadi pemimpin yang kredibel, kapabel dan berintegritas, yang mampu membawa bangsa dan negara ini ke arah yang lebih baik.

Kepada generasi lanjut, apalagi telah pernah hadir di laga kompetisi kepemimpinan itu harusnya sadar. Mereka telah lewat. Mereka punya masanya. Sekarang ini bukan lagi masa mereka. Kalau dipaksakan maka mereka akan tergilas dan menjadi korban perputaran zaman (perubahan).

Biarkan mereka yang masih berumur di bawah 65 tahun mengambil alih estafeta kepemimpinan di negeri ini. Yang tua sadarlah jika anda telah kadaluarsa. Dan yang lebih penting, tidakkah anda sadar jika bau tanah itu semakin menusuk hidung?

Sadar man. Sadar lady. Your time is up!

NYC Subway, 9 Juni 2021