MEMAHAMI LANGKAH YUSRIL

Oleh:

Mohammad Masduki

Ketua DPW PBB Jawa Timur

Beberapa bulan terakhir tak henti-hentinya Yusril Ihza Mahendra baik sebagai pribadi maupun sebagai Ketua Umum Partai Bulan Bintang membuat langkah dan manuver yg mengejutkan banyak pihak, kawan maupun lawan. Langkah dan manuver tersebut telah menjadikan Yim dan PBB menjadi perbincangan masyarakat luas.

Banyak kalangan keliru dan gagal memahami dengan benar langkah Yim. Hal ini dapat dipahami mengingat hal tersebut terjadi dalam tahun politik. Semua langkah dibaca dalam perspektif politik dalam rangka pemilu 2019.

Kegagalan memahami langkah Yim itu mewujud dalam berbagai sikap mengkritik, mencaci, mencela, menghujat, mengkafirkan, menghalalkan darahnya, menuntut mundur sbg ketua umum, sampai ada yang sudah berancang-ancang akan menggulingkannya dalam muktamar yang akan datang.

Yusril terpilih secara mutlak dan meyakinkan sebagai Ketua Umum dalam Muktamar IV Partai Bulan Bintang tahun 2015 di Cisarua Bogor.

Muktamar adalah forum musyawarah tertinggi dalam PBB untuk mengambil keputusan.

Dalam muktamar itu juga diputuskan bahwa muktamar menugaskan/ mengamanahkan kepada ketua umum terpilih untuk dapat menjaga eksistensi partai dengan membentuk kembali Fraksi Partai Bulan Bintang di DPR RI.

Sungguh tugas yang amat berat. Mengingat dalam 10 tahun teakhir PBB nyaris mati, tidak punya kekuatan yang cukup untuk sekedar bertahan hidup.

Sejak saat itulah Yusril memutar otak dan mengerahkan segala kekuatan dan sumber daya untuk melaksanakan dan merealisasikan amanat muktamar tersebut. Semua pikiran, sikap dan tindakan difokuskan untuk mewujudkan target tersebut. Langkah-langkah teknispun kemudian diambil dalam berbagai kesempatan.

Menjelang Pemilihan Gubernur DKI Jakarta tahun 2017 Yusril berketetapan hati untuk maju sebagai kandidat bakal calon gubernur DKI. Ditengah ketidakberanian banyak kandidat menghadapi calon petahana, Yusril tampil menantang dengan gagah berani. Walhasil, dalam waktu tidak sampai setahun elektabilitas cagub petahana drop ke level 30%.

Disaat petahana lemah, para kandidat mulai bermunculan. Yusril yang tidak memiliki dukungan politik yang kuat di parlemen tersingkir dari percaturan kandidat pilgub.

Sebenarnya peluang Yusril masih terbuka. Beberapa partai politik siap mengusung Yusril menjadi calon gubernur DKI dengan syarat berhenti menjadi ketua umum PBB dan masuk menjadi anggota partai mereka. Syarat yang tidak masuk akal bagi Yusril. Akan memisahkan ikan dari airnya.

Menghadapi Pemilu 2019 kembali Yusril mengambil langkah-langkah yang tak banyak dilakukan orang. Dia bersiap maju sebagai kandidat bakal calon presiden.

Berbagai langkah hukum dan politik diambilnya. Peluang sangat terbuka. Karena menurut UU Pemilu, pasangan capres-cawapres diajukan oleh partai politik atau gabungan partai politik peserta pemilu. Dan PBB adalah salah satu partai politik yang sudah siap mengikuti proses menjadi peserta pemilu.

Yusril muncul sebagai sosok yang menakutkan para lawan politik. Dia harus dijegal. Berbagai hambatan mulai ditaburkan.

Hambatan pertama, PBB dinyatakan tidak lolos proses verifikasi faktual oleh KPU. Yim melawan, pedang hukum dihunusnya. KPU terkapar dalam sidang Bawaslu. Dan PBB lolos sebagai peserta pemilu 2019.

Belum berhenti menjegal langkah Yusril. Posisinya kian kokoh dan kuat. Para partai penguasa parlemen bersekongkol membuat aturan yang siap membunuh peluang politik Yusril dan PBB dalam Pilpres 2019. Mereka menetapkan Presidential Treschold 20 %.

Benar. Aturan PT 20% inilah yang akhirnya menghapus peluang Yusril maju dalam pilpres 2019. Untuk sementara, lawan berhasil membendung langkah Yusril.

Mengapa Yusril berbulat hati maju sebagai calon gubernur dan capres/cawapres? Apakah Yusril begitu ingin menjadi penguasa sbg gubernur atau presiden/wapres?

Mungkin tidak sepenuhnya salah. Tapi bukan itu tujuan utamanya. Yusril berpendapat, partai politik yang dapat mengusung kadernya maju sebagai cagub atau capres/cawapres maka partai tersebut berpeluang besar meraih perolehan besar dalam pemilu. Terlepas menang atau kalah dalam pilgup/pemilu. PDIP, Demokrat dan Gerindra telah membuktikannya.

Yusril terhalang bertubi-tubi. Sementara belum berhasil menemukan cara membuka peluang membawa PBB ke parlemen.

Tapi Yusril adalah tipe petarung yang nyaris sempurna. Tanpa lelah, pantang surut, dan terus berpegang pada komitmen dan janji. Itulah Yusril. Tidak berubah sejak dahulu. Konsisten.

Otaknya terus diputar. Mencari cara meloloskan PBB ke parlemen. Dia tidak mengenal jalan buntu.

Kini PBB harus menghadapi pemilu sendiri. Tak terlibat dalam usung mengusung capres/cawapres. Karena kedua paslon sudah mendaftar ke KPU tanpa ada PBB di dalamnya.

Atas pertimbangan banyak tokoh, Yusril membangun komunikasi dengan kedua paslon. Setelah sekian waktu, komunikasi politik dengan 02 buntu. Tidak terjadi sinergi. Tidak kondusif untuk meloloskan PBB ke parlemen. Yusril akhirnya memilih menerima menjadi pengacara paslon 01.

Dan dalam pilpres 2019 dengan paslon manakah Ketum dan PBB secara resmi akan bekerjasama? Dengan paslon 01 atau 02?

Keputusan itu akan disampaikan dalam Rakornas yang sebentar lagi akan dimulai.

Yusril dan PBB mengalami situasi sulit. Tetapi bagaimanapun keputusan harus diambil.

Yusril tetap harus bergerak dalam situasi apapun. Orang bilang, think out of the box. Apapun resikonya.

Semua langkah dan manuver yang diambil Yusril targetnya hanya satu: meloloskan PBB ke parlemen, membentuk Fraksi DPR RI. Karena itulah yang diamanahlan muktamar kepadanya. Itu saja.

PBB, selamat melaksanakan Rakornas. Apapun hasilnya, semoga Allah meridlai.

Ancol, 27 Januari 2019

Sesaat menjelang Rakornas PBB.