MOSI INTEGRAL, NKRI DAN UMMAT ISLAM

Foto M. Natsir (Ketua Partai Masyurmi)


Oleh: Rizal Aminuddin

Suaralantang.com, – 3 April 1950 M (seperti tanggal hari ini) Natsir mendeklair Mosi Integral, setelah melobi para Kepala Negara Bagian di Republik Indonesia Serikat (RIS) dan anggota DPR RIS, akhirnya mereka sepakat membubarkan negara bagian masing-masing yang buatan Belanda kemudian mereka menyetujui Mosi Integral Natsir untuk kembali menjadi Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) sebagaimana kita kenal sekarang.

M. Natsir dan Partai Masyumi (saat itu dia sebagai pimpinannya) memang mempunyai kesadaran dan konsep yang jauh lebih jelas tentang negara kesatuan untuk Republik Indonesia yang tidak sekedar mengenalkan hubungan Islam dan Negara tapi bagaimana cara mengelolanya suatu negeri yang daerahnya terpisah oleh laut berikut pula keberagaman suku-bangsa.

Hasil Pemilu 1955 Masyumi telah menang lebih merata diseluruh Indonesia dibandingkan PNI, NU dan PKI yang paling banyak meraup kemenangan di Jawa Tengah, Jawa Timur, Bali (PNI & PKI) dan Kalimantan Selatan (NU) semakin memantapkan konsep negara kesatuan. Kemudian Masyumi mulai mengenalkan hubungan Islam dan Negara Kesatuan, Masyumi dalam sidang majelis konstituante telah membawa dan menawarkan draft konstitusi negara Republik Indonesia yang berdasarkan Islam dengan bentuk negara kesatuan.
Suatu hal yang diluar bayangan tentang konsep negara dalam Islam yang selalu dikonotasikan bentuk Kerajaan atau kesultanan. Suguhan Masyumi tentang negara modern dalam Islam untuk Indonesia.
Draft konstitusi itu juga mengenalkan tentang otonomi daerah. Gagasan dan konsep Masyumi itu disokong penuh oleh Partai-Partai Islamnya dalam sidang konstituante.

Sekalipun pada akhirnya mengenai dasar negara belum mencapai sepakat tapi konsep otonomi daerah dan hak-hak asasi manusia dari Masyumi banyak diterima oleh Majelis Konstituante. Otonomi daerah bagi Masyumi merupakan pilar penyelenggaraan negara dalam negara kesatuan.

Pun demikian, keterlibatan para pimpinan Masyumi dalam PRRI adalah bentuk kekecewaan berat dari Masyumi terhadap Soekarno yang tidak serius mengurus negara kesatuan. Soekarno lebih dekat kepada PKI yang menghendaki pemerintahan yang sentralistis di Jawa daripada memperhatikan pembangunan daerah. PRRI adalah wujud dari pergolakan daerah yang menghendaki otonomi daerah.

Maka NKRI, dengan segala konsepnya telah dipersembahkan oleh golongan Islam kepada negeri ini. Bagi golongan Islam khususnya Masyumi dengan ormas yang pernah tergabung di dalamnya dan para pengikutnya serta keturunannya (wa ‘ala alihi wa shahbihi ajma’in wattabi’in wa dzurriyatihi) NKRI merupakan hadiah bagi tanah tumpah darahnya, tak mungkin meninggalkan apalagi melukai dan menghancurkannya.

Hanya orang tak tahu sejarah dan tak mau tahu tentang sejarah golongan Islam dan NKRI yang secera politis dan culas menuduh golongan Islam sebagai biang runtuh dan hancurnya NKRI.
Kaum ultranasionalislah yang paling sering menuduh bahwa golongan Islam berikut nilai-nilai dan praktek-praktek Islam dalam negara sebagai cikal bakal bubarnya negara kesatuan.

Ditulis Oleh : Rizal Aminuddin
(Seketaris MPW Partai Bulan Bintang Jawa Timur)