Pendidikan Luar Sekolah dalam Pondokan Mahasiswa

Suaralantang.com, MALANG – Pemuda merupakan agent of change yang digadang-gadang sebagai tolak ukur kemajuan suatu bangsa. Baik buruk suatu bangsa tergantung bagaimana perilaku generasi mudanya.

Allah SWT Berfirman : “Kami kisahkan kepadamu (Muhammad) cerita ini dengan benar. Sesungguhnya mereka adalah pemuda-pemuda yang beriman kepada Tuhan mereka, dan kami tambah pula untuk meraka petunjuk.” (QS. Al. Kahfi :13).

Ayat ini sebagai lanjutan dari ayat sebelumnya yang mengisahkan tentang para pemuda aashabul kahfi, simbol pemuda beriman yang teguh pendirian.

Seiring dengan perkembangan teknologi yang semakin maju, tidak lantas membuat pemuda semakin produktif. Justru sebaliknya, pemuda lebih banyak meluangkan waktunya untuk bermain gadget dibandingkan dengan belajar ilmu dan Kenakalan remaja semakin meningkat.

Malang merupakan salah satu kota pendidikan di Indonesia, dimana disebut kota pendidikan karena terdapat banyaknya jumlah kampus dan sekolah.

Berdasarkan data dari merdeka.com terdapat sekitar lebih dari 80 perguruan tinggi yang tersebar di wilayah Malang Raya.

Sehingga setiap tahunnya pertumbuhan jumlah penduduk di malang semakin meningkat. Salah satu penyumbang penduduk terbesar di malang adalah mahasiswa dari luar kota yang menuntut ilmu di malang.

Berdasarkan pengamatan penulis setiap tahun jumlah kos atau rumah dikontrakan semakin meningkat karena minimnya jumlah mahasiswa yang lulus dan meningkatnya jumlah mahasiswa baru yang diterima di perguruan tinggi.

Rumah kos atau kontrakan sebagai rumah tinggal kedua bagi mahasiswa luar kota. Dan jauh dari pengawasan orang tua. Harapan dari orang tua sendiri selain menjadi tempat tidur, kos atau kontrakan juga sebagai tempat belajar mandiri.

Tetapi tidak sedikit dari mahasiswa tidak mengerti hal itu, bahkan sebaliknya rumah kos dialih fungsikan sebagai tempat-tempat yang tidak sepantasnya dilakukan, seperti bermain musik keras-keras, tempat

persembunyian narkoba, dan lain-lain.

Pada tahun 2014, seorang mahasiswa di salah satu perguruan tinggi negeri bunuh diri di kamar kosnya. Dan ditahun yang sama juga terdapat mahasiswa meninggal di kamar kos karena sakit.

Hal ini terjadi dikarenakan minimnya pengawasan dari orang tua dan ibu atau bapak kos tidak semua memperhatikan anak-anak kos-nya. sehingga perlu adanya rumah kos yang didalamnya terdapat sistem

yang menggantikan fungsi orang tua di tanah

perantauan.

Rumah kos muslim yang dikonsep sebagai tempat tinggal dan tempat untuk menuntut ilmu agama yang didalamnya terdapat nilai-nilai kekeluargaan merupakan salah satu solusinya. Rumah-rumah seperti ini tidak banyak jumlahnya di malang.

Salah satunya adalah rumah muslim atau sering disebut pondokan mahasiswa yang dikelola forum studi islam malang. Disebut “pondokan” karena dikonsep seperti pondok pesantren dengan tambahan kata “an” dibelakang kata “pondok” menujukkan bahwa rumah ini tidak murni pondok pesantren melainkan tempat atau rumah tinggal untuk menuntut ilmu agama islam dengan suasana kekeluargaan. (Red).

Penulis : Reksi Syahputra